24 April 2020

Doa Nabi Ayub Ketika Sakit

SURAT AL-ANBIYA:83


Artinya:

Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: "(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang".

KISAH NABI AYUB MELAKUKAN KARANTINA DIRI AGAR PENYAKITNYA TIDAK MENULAR

Syekh Muhammad Ali Thoha Ad-Durroh dalam tafsirnya menukil pendapat Ibnu Abbas yang menjelaskan bahwa salah satu kepribadian yang menonjol dari kisah Nabi Ayyub AS, di samping kesalehan sosialnya adalah konsistensinya dalam kesabaran dan pertaubatan pada Allah dalam berbagai kondisi.
Oleh karena itu ia diberi nama Ayyub. Gambaran dari seorang spiritualis penyuka taubat. (Syekh Muhammad Ali Toha Ad Durroh, Tafsir al-Quran al-Karim wa i’robuhu wa bayanuhu, Beirut: Dar Ibn Katheer).
Ayyub adalah salah satu Nabi, selain Nabi Sulaiman, yang memiliki harta kekayaan berlimpah ruah. Hiperbolisasi diksi tafsir yang dilakukan oleh Ali Thoha Ad Durroh menggambarkan betapa Ayyub adalah salah miliarder di masanya.
Dalam riwayat yang lain Ibnu Katsir merinci betapa aset yang dimiliki Nabi Ayyub memang teramat banyak. Baik aset bergerak maupun aset tak bergerak, seperti binatang tunggangan, ternak, kebun, tanah dan rumah. Ia juga memiliki istri dan keturunan yang baik.
Ayyub juga seorang penderma. Ad Durroh menjelaskan bahwa Ayyub punya semacam panti asuhan yang menampung anak yatim, orang miskin dan dalam beberapa riwayat juga menampung para Duda. Jadi ia tak hanya kaya raya, lebih dari itu ia adalah seseorang dengan kepedulian sosial yang tinggi.
Pendek kata, Ayyub adalah gambaran life goal sebenar-benarnya. Kaya raya, berkesalehan sosial, penderma dan memiliki keluarga yang lengkap nan bahagia.
Namun hal itu tak berlangsung lama. Gelombang ujian besar datang menimpa. Harta kekayaannya sedikit demi sedikit hilang. Hewan peliharaan mati. Kediamannya terbakar. Bahkan putranya satu per satu meninggal. Dengan sekejap ia collaps. Bangkrut. Semua asetnya hilang. Tak hanya itu Ia bahkan didiagnosa menderita lepra.
Ada penggalan penjelasan menarik dari Ibnu Katsir mengenai ujian penyakit lepra yang diderita oleh Nabi Ayyub. Penggalan mengenai bagaimana Nabi Ayyub menerapkan social distancing yang sepertinya relevan kita jadikan ibrah di masa-masa pandemi global akibat covid-19 saat ini.
Ia menjelaskan bahwasannya Ibnu Hatim meriwayatkan dari Abdullah bin Ubaid bin Umair, yang berkata bahwa Ayyub mempunyai dua orang saudara. Suatu hari keduanya menengok Nabi Ayyub, namun mereka berdua tak berani mendekat. Mereka mengambil jarak dari Nabi Ayyub. Hal tersebut dikarenakan selain baunya yang tak sedap keduanya juga takut tertular penyakitnya.
Salah seorang dari saudaranya berkata; andaikan Allah mengetahui bahwa Ayyub punya kebaikan, niscaya Dia tidak akan mengujinya dengan penyakit ini. Perkataan bernada sinis dari saudaranya tersebut sontak membuatnya begitu terpukul.
Ejekan itulah yang membuat Nabi Ayyub melakukan swakarantina. Ia dengan sukarela menjauh dari lingkungan dan keluarganya. Ia menanggung lepra seorang diri, dan hanya ditemani sang Istri yang bahkan istrinya pun pernah hendak meninggalkannya.
Kehilangan harta benda adalah ujian terberat, namun bagaimanapun beratnya ujian tersebut tak ada ujian yang lebih berat dibanding terpisah dan dijauhi oleh sanak keluarga. Lepra seperti membunuhnya dua kali. Ia menggerogoti seluruh tubunya. Ia pun menjauhkannya dari keluarganya.
Hanya bersabar dan berserah diri yang dilakukan oleh Nabi Ayyub di masa masa krisisnya. Atas ejekan yang dilakukan oleh kedua saudaranya tersebut ia pun berdoa sebagaimana diabadikan dalam al-Quran: “Dan ingatlah kisah Ayyub ketika dia menyeru Tuhannya, “sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Tuhan yang Maha penyayang di antara semua penyayang.” (Al Anbiya’: 83).
Abdul Wahhab An Najjar menjelaskan ada dua pendapat mengenai kisah Nabi Ayyub di atas. Ada yang berpendapat bahwa kesabaran Nabi Ayyub atas kebangkrutan yang dideritanya itulah sebenarnya yang mengangkat derajatnya menjadi seorang Nabi. Karena menurutnya seorang Nabi adalah manusia suci yang tak mungkin diberi penyakit yang sedemikian hebat dan menghinakan.
Pendapat yang lain mengatakan bahwasannya itulah ujian bagi kenabiannya. Mengingat musibah tersebut datang kepadanya saat ia berusia 80 tahun. Sementara usia diangkatnya Nabi adalah 40 tahun.
Dari konfrontasi beberapa tafsir yang saya lakukan mengindikasikan bawa ujian tersebut adalah ujian terbesar kenabiannya. Sebagaimana Nabi-Nabi lain yang selalu lekat dengan ujian.
Nabi Ayyub diangkat menjadi Nabi setidaknya karena dua hal besar. Pertama, karena kedermawanannya atas aset yang ia miliki. Kedua, karena kesabarannya atas swakarantina yang ia lakukan secara sukarela dikarenakan ujian yang Allah -dalam beberapa riwayat, yang setan- timpakan atas semua aset yang dimilikinya tersebut.
Terlepas dari silang pendapat para mufassir mengenai kisah tersebut, Nabi Ayyub mewariskan pelajaran besar bagi kita terutama di masa ganasnya pandemi covid-19 yang mengglobal saat ini. Ia mengajarkan kebesaran hati dan kesadaran diri melakukan swakarantina.
Ibnu katsir menjelaskan dalam tafsirnya bahwa penyakit yang diderita oleh Nabi Ayyub bahkan menggerogoti seluruh tubuhnya kecuali hati dan lidahnya. Ia pun melakukan swakarantina dengan berbekal kedua organ tersebut yang ia gunakan untuk berzikir kepada Allah Ta’ala.
Sadar penyakitnya menular dan membahayakan orang lain. Ia memilih jalan sunyi. Mengisolasi diri agar tak mengganggu kenyamanan orang lain. Pilihan tersebut memang berat. Ia faham betul bahwa hidup laksana roda pedati. Kadang di atas. Sekali waktu ada di bawah. Ketika di bawah, ia tabah. Nabi Ayyub adalah simbol ketabahan anak manusia. 
KESABARAN NABI AYUB
Nabi Ayyub A.S, anak Ish bin Ishaq bin Ibrahim A.S. Beliau seorang nabi yang sangat kaya sekali, mempunyai ternak yang bermacam-macam, seperti: sapi,kambing, kuda, keledai, unta, dan lain sebagainya.
Beliau seorang yang baik hati, suka mengeluarkan harta bendanya untuk membantu fakir miskin, yatim piatu, memuliakan tamu dan sebagainya, kekayaannya itu tidak melalaikannya ibadah kepada Allah Swt. Kekayaan yang melimpah-limpah itu tidak menyebabkan ia menjadi sombong dan lupa kepada orang-orang yang miskin. Walauoun ia seorang yang kaya namunkehidupannya tidak berlebih-lebihan, bahkan semakin kaya semakin bertambah taatnya kepada Allah Swt.
Dengan kekayaan yang banyak dan keturunan yang banyak pula, dia tidak makin kendor semangatnya untuk beribadat dan bersujud kepada Allah Swt.
Setiap orang yang beriman dan taat beribadat, syaithan selalu mencoba mengodanya. Demikian pula akan halnya terhadap Nabi Ayyub A.S Dengan berbagai cara dan akal bulus, syaithan mencoba membujuknya dengan merayu-rayu dan dengan senjatanya yang ampuh, agar Ayyub dapat bergeser dari imannya dan dari ibadatnya.
Cobaan Allah kepada Nabi Ayyub A.S.
Pertama harta bendanya habis, sehingga Ayyub yang tadinya kaya raya, lama kelamaan menjadi miskin. Hal ini tidak menggoncangkan keimanannya, karena beliau senantiasa ingat bahwa semua manusia lahir ke dunia tidak membawa apa-apa, kemudian Allah memberikannya rizqi dan Allah lah yang memberikan kekayaan. Dan kepada Allah harta benda itu kembali, yakni Allah lah yang mengambil kembali harta itu.
Dari ujian cobaan ini, luluslah Ayyub. Beliau tidak bergeser sedikit pun imannya dan ibadahnya kepada Allah. Kemudian Allah mengujinya lagi, anak-anaknya yang banyak itu, sekarang banyak pula yang mati, dari saat ke saat cobaan dan ujian itu terus berjalan.
Cobaan ini tidak mempengharui diri Nabi Ayyub, beliau ingat bahwa manusia semula dari Allah, kemudian kembali kepada-Nya, termasuk dirinya akan kembali pula kepada-Nya.
Cobaan itu diterima oleh Ayyub dengan sabar, kemudian syaithan berusaha dengan sekuat-kuatnya untuk menggoncangkan keimanan Nabi Ayyub. Dan Allah mngujinya dnegan memberikan penyakit yang dahsyat, penyakit yang tidak smebuh-sembuh, sehingga rupanya Ayyub pun berubah dan kelihatannya sangat tua sekali. tetapi ia pun tetap tenang dan sabar, tidak pernah mengeluh karena sakitnya itu, dan segala ibadat yang dikerjakannya sebagaimana waktu sebelum sakit ia kerjakan dengan bertambah khusyu’.
Syaithan pun putus asa, karena dengan cara apa pun tidak berhasil menggoda Ayyub, walau bagaimanapun sakit yang dideritanya, imannya tidak bergeser sedikitpun. Maka syaithan mencari jalan laindengan memperdaya istrinya, supaya berkurang menjaga suaminya.
Pada suatu hari istri Ayyub enggan melayani suaminya. Ayyub menjadi marah kepada istrinya dengan berujar: “Jika aku sembuh pasti kupukul seratus kali”. dan Nabi Ayyub berdo’a kepaada Allah Swt sebagaimana tertera dalam kitab al-Qur’an.
“Ingatlah ketika Ayyub menyeru kepada Tuhan-nya:” Ya Tuhanku, aku dapat penyakit dan cobaan yang sebabkan oleh syaithan” (QS. Shaad ayat 41).
Do’a Nabi Ayyub dikabulkan tuhan, dan Ayyub pun sembuh dari penyakitnya, dan harta kekayaannya pun kembali seperti sedia kala, juga keluarganya sehat-sehat seperti sedia kala.
Tuhan memperlihatkan keimanan Nabi Ayyub A.S yang tidak sedikit pun bergeser walaupun musibah dan cobaan bertubi-tubi, sehingga syaithan menjadi kalah dan tidak berdaya. Sewaktu Nabi Ayyub berdo’a minta sembuh, Tuhan berfirman sebagaimana tertera dalam al-Qur’an:
“Hentakkanlah (injaklah dnegan keras) kakimu ke atas bumi, niscaya terbit di sana mata air yang sejut, maka mandi dan minumlah, lalu sembuhlah penyakitnya” (QS. Shaad ayat 42).
Setelah Nabi Ayyub sembuh dari penyakitnya, kemudian Nabi Ayyub ingin melaksanakan janjinya untuk memukul istrinya seratus kali, maka hal itu dibolehkan oleh Allah sebagaimana firman-Nya dalam al-Qur’an:
Ambillah sekerat kayu dengan tanganmu, lalu pukullah istrimu dengan itu, maka tiadalah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami mendapai Ayyub itu orang yang sabar, dia sebaik-baik hamba dan banyak bertaubat kepada Allah Swt.” (QS. Shaad ayat 44).
Demikian Nabi Ayyub tidak jadi memukul istrinya seratus kali pukul, tetapi lidi yang seratus itu dijadikan satu ikatan dan dipukulkan sekali saja, untuk melaksanakan janjinya itu sewaktu beliau masih sakit.
Istri Ayyub adalah wanita yang shalehah, ia berbuat sesuatu bukanlah karena tabi’atnya yang jelek, namun karena digoda oleh syathan, dan Allah Swt Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Tidak lama kemudian Nabi Ayyub mempunyai anak yang banyak, diantaranya anak laki-laki bernama Basyir yang digelari Dzulkifli yang pada akhirnya menjadi seorang nabi pula. Sumber: Islam.co

22 April 2020

Kisah Mengharukan Umar Bin Khattab Saat Masuk Islam (QS-20:1-5)


Artinya
  1. Thaahaa.
  2. Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah
  3. Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah)
  4. yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.
  5. (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas 'Arsy.
Inilah kisah mengharukan detik–detik Umar Bin Khattab masuk agama Islam. Dia mendapat hidayah Allah berkat doa Rasulullah SAW. Doa itu dikabulkan oleh Allah. Allah memilih Umar bin Khattab sebagai salah satu pilar kekuatan Islam. Sedangkan Amr bin Hisham meninggal dunia sebagai Abu Jahal.

Sebagai umat Islam tentu kita tidak asing dengan nama Umar bin Khattab. Dia adalah salah sabahat dekat nabi Muhammad. Kisah hidupnya sangat mengharukan. Namun tidak sedikit umat Islam yang sudah tahu bagaimana kisah dia, sebelum mualaf dan setelah mualaf.

Umar bin Khattab bin Nafiel bin Abdul Uzza atau lebih dikenal dengan Umar bin Khattab (581- November 644) adalah salah seorang sahabat Nabi Muhammad yang juga khalifah kedua Islam (634-644). Umar bin Khattab dilahirkan 12 tahun setelah kelahiran Rasulullah SAW.

Ayahnya bernama Khattab dan ibunya bernama Khatamah. Perawakannya tinggi besar dan tegap dengan otot-otot yang menonjol dari kaki dan tangannya, jenggot yang lebat dan berwajah tampan, serta warna kulitnya coklat kemerah-merahan. Umar dibesarkan di dalam lingkungan Bani Adi, salah satu kaum dari suku Quraisy. Nasab Umar bertemu dengan nasab Rasulullah pada kakeknya Ka’ab. Antara beliau dengan Rasulullah selisih 8 kakek.

Sebelum mualaf atau masuk Islam, Umar bin Khattab dikenal sebagai seorang yang keras permusuhannya dengan kaum Muslimin. Ia bertaklid kepada ajaran nenek moyangnya dan melakukan perbuatan-perbuatan jahiliyah, namun tetap bisa menjaga harga diri. Umar masuk Islam pada bulan Dzulhijah tahun ke-6 kenabian, tiga hari setelah Hamzah bin Abdul Muthalib masuk Islam. Dikisahkan, suatu malam Umar bin Khattab datang ke Masjidil Haram secara sembunyi-sembunyi untuk mendengarkan bacaan salat Rasulullah SAW. Waktu itu Rasulullah membaca surat Al Haqqah. Umar bin Khattab kagum dengan susunan kalimatnya lantas berkata pada dirinya sendiri. “Demi Allah, ini adalah syair sebagaimana yang dikatakan kaum Quraisy.” 

Kemudian beliau mendengar Rasulullah membaca ayat 40-41 (yang menyatakan bahwa Alquran bukan syair). Lantas beliau berkata, “Kalau begitu berarti dia itu dukun.” Kemudian beliau mendengar bacaan Rasulullah ayat 42, (Yang menyatakan bahwa Alquran bukanlah perkataan dukun) akhirnya beliau berkata, “Telah terbetik lslam di dalam hatiku.” Akan tetapi karena kuatnya adat jahiliyah, fanatik buta, pengagungan terhadap agama nenek moyang, maka beliau tetap memusuhi Islam. 

Kemudian pada suatu hari, beliau keluar dengan menghunus pedangnya bermaksud membunuh Rasulullah SAW. Dalam perjalanan, beliau bertemu dengan Nu’aim bin Abdullah al ‘Adawi, seorang laki-laki dari Bani Zuhrah. Lekaki itu berkata kepada Umar bin Khattab, “Mau kemana wahai Umar?” Umar bin Khattab menjawab, “Aku ingin membunuh Muhammad.”

Pria tadi berkata, “Bagaimana kamu akan aman dari Bani Hasyim dan Bani Zuhrah kalau kamu membunuh Muhammad?” Maka Umar menjawab, “Tidaklah aku melihatmu melainkan kamu telah meninggalkan agama nenek moyangmu.” Tetapi lelaki tadi menimpali, “Maukah aku tunjukkan yang lebih mencengangkanmu, hai Umar? Sesungguhnya adik perampuanmu dan iparmu telah meninggalkan agama yang kamu yakini.”

Kemudian dia bergegas mendatangi saudara perempuannya yang sedang belajar Alqur’an, surat Thaha kepada Khabab bin al Arat. Tatkala mendengar Umar bin Khattab datang, maka Khabab bersembunyi. Umar bin Khattab masuk rumahnya dan menanyakan suara yang didengarnya. Kemudian adik perempuan Umar bin Khattab dan suaminya berkata, “Kami tidak sedang membicarakan apa-apa.”

Umar bin Khattab menimpali, “Sepertinya kalian telah keluar dari agama nenek moyang kalian.” Saudaranya menjawab, “Wahai Umar, apa pendapatmu jika kebenaran itu bukan berada pada agamamu?” Mendengar ungkapan itu Umar bin Khattab memukulnya hingga terluka dan berdarah, karena tetap saja saudara perempuannya itu mempertahankan agama Islam yang dianutnya. Ketika melihat wajah saudarinya berdarah, Umar menjadi iba kemudian meminta agar bacaan tersebut dapat ia lihat. 

Umar bin Khattab berkata, “Berikan kitab yang ada pada kalian kepadaku, aku ingin membacanya.” Maka adik perempuannya berkata, “Kamu itu kotor. Tidak boleh menyentuh kitab itu kecuali orang yang bersuci. Mandilah terlebih dahulu!” Lantas Umar bin Khattab mandi dan mengambil kitab yang ada pada adik perempuannya. Ketika dia membaca surat Thaha, dia memuji dan muliakan isinya, kemudian minta ditunjukkan keberadaan Rasulullah. 

Ketika Khabab mendengar perkataan Umar bin Khattab, dia muncul dari persembunyiannya dan berkata, “Aku akan beri kabar gembira kepadamu, wahai Umar! Aku berharap engkau adalah orang yang didoakan Rasulullah pada malam Kamis, “Ya Allah, muliakan Islam dengan Umar bin Khatthab atau Abu Jahl (Amru) bin Hisyam.” 

Waktu itu, Rasulullah SAW sedang berada di rumahnya.” Umar bin Khattab mengambil pedangnya dan menuju rumah tersebut, kemudian mengetuk pintunya. Ketika ada salah seorang melihat Umar bin Khattab datang dengan pedang terhunus dari celah pintu rumahnya, dikabarkannya kepada Rasulullah. Lantas mereka berkumpul. Hamzah bin Abdul Muthalib bertanya, “Ada apa kalian?” 

Mereka menjawab, “Umar datang!” Hamzah bin Abdul Muthalib berkata, “Bukalah pintunya. Kalau dia menginginkan kebaikan, maka kita akan menerimanya, tetapi kalau menginginkan kejelekan, maka kita akan membunuhnya dengan pedangnya.” Kemudian Rasulullah menemui Umar bin Khattab dan berkata kepadanya, “Ya Allah, ini adalah Umar bin Khattab. Ya Allah, muliakan Islam dengan Umar bin Khattab.” Dan dalam riwayat lain, “Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan Umar.”

Seketika itu pula Umar bin Khattab bersyahadat, dan orang-orang yang berada di rumah tersebut bertakbir dengan keras. Menurut pengakuannya dia adalah orang ke-40 masuk Islam. Abdullah bin Mas’ud berkomentar, “Kami senantiasa berada dalam kejayaan semenjak Umar bin Khattab masuk Islam.” (dari berbagi sumber)

14 April 2020

10 April 2020

Keagungan dan Keluasan Sifat Allah (QS 18:109 dan 27:31)

AL-KAHFI:109



Artinya :

Katakanlah (Muhammad), "Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)".

LUKMAN:31

“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) setelah (kering)nya, nescaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Tafsir dari ayat di atas:

Seandainya semua lautan yang ada menjadi tinta dan semua pepohonan yang ada menjadi penanya, kemudian ditambahkan lagi hal yang sama untuk menulis kalimat-kalimat Allah, sifat-sifatNya, ilmuNya, hikmah-hikmahNya, qudrat(kekuasaan)Nya dan rahmatNya, tentulah semua pena patah dan lautan itu menjadi kering sebelum penulisannya selesai; sedangkan kalimat-kalimat Allah masih tetap utuh, tiada yang dapat menghabiskannya.

Semua yang disebutkan itu makhluk, sedangkan makhluk ada habisnya. Firman Allah adalah termasuk sifatNya, sedangkan sifatNya bukan makhluk dan tidak ada batasnya. Keluasan dan kebesaran apa saja yang dibayangkan hati. Maka Allah s.w.t. lebih dari itu.

Jika dikumpulkan pengetahuan makhluk terdahulu sehingga yang datang kemudian, baik yang terdiri dari penghuni langit maupun penghuni bumi, lalu dihubungkan kepada ilmu Allah, tentu lebih sedikit daripada air yang diteguk oleh seekor burung dengan paruhnya ke tengah-tengah lautan.

Seseorang tidaklah mampu memberikan penghormatan kepadaNya dengan penghormatan yang semestinya, dan tiada seorang pun yang dapat memujiNya dengan pujian Allah terhadap diriNya sendiri.

Allah adalah seperti apa yang dikatakanNya, tetapi di atas segala sesuatu yang kita katakan.Sesungguhnya perumpamaan kenikmatan dunia dari awal hingga akhir di dalam nikmat ukhrawi sama dengan perumpamaan sebiji sawi di dalam besarnya dunia ini secara keseluruhan.

Yang demikian adalah kerana Allah s.w.t. memiliki sifat-sifat yang agung lagi luas, dan kepadaNya kembali semua kesudahan.


07 April 2020

Keutamaan Membaca Surat Al Kahfi


Dari Abu Darda ra. mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda, "Siapa yang membaca sepuluh ayat pertama surat Al Kahfi, dia akan terlindungi dari Dajjal (HR. Muslim)

RINGKASAN TENTANG SURAT AL KAHFI



  1. Keutamaan membaca surat Al Kahf yaitu terlindung dari dajjal
  2. Kisah tentang Asbabul Kahfi
  3. Walyatalattaf (Pertengahan Al-Quran)
  4. Kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa
  5. Peringatan bahwa hidup di dunia hanya sebentar
  6. Keluasan dan Keagungan Allah
  7. Kerugian bagi orang yang tidak percaya kepada hari akhir (kiamat)
  8. Nabi Muhammad pada dasarnya adalah manusia seperti kita namun beliau dipilih oleh Allah sebagai rasul (penyampai risallah Allah)













Jangan Terlalu Cinta Dunia (QS-18:45)




Artinya:


Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu.
18:46 (Harta dan anak adalah hiasan dunia)

Tafsir surat 18:45

Rasulullah saw menyampaikan, "Demi jiwaku yang ada dalam genggaman-Nya, tidaklah perumpamaan dunia kecuali seperti seorang pengendara yang lewat pada suatu hari yang panas. Lantas dia berteduh di bawah pohon untuk beberapa saat dari terik siang hari. Kemudian panas itu hilang dan diapun meninggalkannya (HR. Ahmad)


Artinya:

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.


06 April 2020

Tafsir Jalalain

Mengenal dua Jalaluddin: Jalaluddin Al-Mahalli dan Jalaluddin As-Suyuthi


Al-Jalalain artinya dua Jalal. Dinamakan demikian, karena kitab tafsir ini ditulis oleh dua orang ulama terkenal yaitu:
  1. Imam Jalaluddin Al-Mahalli. (Lahir tahun 771 H (Mesir) dan meninggal dunia tahun 864 H (93 tahun di Mesir).
  2. Imam Jalaluddin As-Suyuthi. (Lahir tahun 849 H (Mesir) dan meninggal dunia tahun 911 H (61 tahun di Mesir).
Awalnya Jalaluddin Al-Mahalli menulis tafsir ini mulai dari surah Al-Kahfi sampai surah An-Naas. Dan ketika menyelesaikan tafsir surah Al-Fatihah, beliau wafat. Lalu Jalaluddin As-Suyuthi pun melanjutkannya. Beliau menulis dari tafsir surah Al-Baqarah hingga surah Al-Isra’. Secara metodologi penulisan, tidak ada perbedaan mencolok di antara dua penulis.
Kelebihan kitab tafsir ini adalah:
  1. Tidak bertele-tele (ini kitab tafsir ringkas).
  2. Mudah dipahami
  3. Menyebutkan pendapat yang rajih (kuat) dari berbagai pendapat yang ada
  4. Sering menyebutkan sisi i’rab dan qira’at secara ringkas.
  5. Para ulama banyak menelaah kitab tafsir ini dan bahkan ada yang memberikan catatan kaki, juga penjelasan.
Mulai Tafsir Surah Al-Fatihah
Surah Al-Fatihah dalam Tafsir Al-Jalalain disebutkan adalah surah Makkiyyah (turun sebelum hijrah) terdiri dari tujuh ayat.
Dalam Tafsir Al-Jalalain (hlm. 10), Jalaluddin Al-Mahalli menyebutkan,
“Jika basmalah itu bagian dari Al-Fatihah, maka terdiri dari tujuh ayat, ayat ketujuh adalah “shirotholladziina” sampai akhir surah.
Sedangkan jika basmalah bukan merupakan bagian dari surah Al-Fatihah, ayat ketujuh adalah “ghoiril magh-dhuubi ‘alaihim” sampai akhir surah.
Dari ayat “iyyaka na’budu” itu dimaksudkan untuk hamba sebagaimana disebutkan dalam hadits.”
Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Barangsiapa yang shalat lalu tidak membaca Ummul Qur’an (yaitu Al-Fatihah), maka shalatnya kurang (tidak sah) -beliau mengulanginya tiga kali-, maksudnya tidak sempurna.”
Abu Hurairah berkata, “Bacalah Al Fatihah untuk diri kalian sendiri karena aku mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Allah Ta’ala berfirman:

Aku membagi shalat (maksudnya: Al Fatihah) menjadi dua bagian, yaitu antara diri-Ku dan hamba-Ku dua bagian dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.

  1. Jika hamba mengucapkan ’alhamdulillahi robbil ‘alamin (segala puji hanya milik Allah)’, Allah Ta’ala berfirman: Hamba-Ku telah memuji-Ku.
  2. Ketika hamba tersebut mengucapkan ‘ar rahmanir rahiim (Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)’, Allah Ta’ala berfirman: Hamba-Ku telah menyanjung-Ku.
  3. Ketika hamba tersebut mengucapkan ‘maaliki yaumiddiin (Yang Menguasai hari pembalasan)’, Allah berfirman: Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku. Beliau berkata sesekali: Hamba-Ku telah memberi kuasa penuh pada-Ku.
  4. Jika ia mengucapkan ‘iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in (hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan)’, Allah berfirman: Ini antara-Ku dan hamba-Ku, bagi hamba-Ku apa yang ia minta.
  5. Jika ia mengucapkan ‘ihdiinash shiroothol mustaqiim, shirootolladzina an’amta ‘alaihim, ghoiril magdhuubi ‘alaihim wa laaddhoollin’ (tunjukkanlah pada kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan orang yang dimurkai dan bukan jalan orang yang sesat), Allah berfirman: Ini untuk hamba-Ku, bagi hamba-Ku apa yang ia minta.’” (HR. Muslim, no. 395).


Tentang Walyatalattaf (QS-18:19)

AL-KAHFI:19

Artinya:

Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: Sudah berapa lamakah kamu berada (disini?)". Mereka menjawab: "Kita berada (disini) sehari atau setengah hari". Berkata (yang lain lagi): "Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun

Tafsir menurut Syamil Qur'an (18:19)

Haritsah bin Wahab r.a berkata: "Aku mendengar Rasulullah saw bersabda "Maukan aku kabarkan kepada kalian tentang calon penghuni syurga? Yaitu setiap orang yang lemah lembut dan dianggap lemah oleh para manusia, tetapi jika dia bersumpah atas nama Allah, pastilah Allah mengabulkan yang disumpahkannya itu. Maukah aku kabarkan kepada kalian calon penghuni neraka? Yaitu setiap orang yang suka mengumpulkan harta tetapi ia kikir, dan bengis dan sombong (HR. Bukhori Muslim, Riyadus Shalihin 252:90)

Bahwa walyatalaththaf adalah bagian paling tengah dari Al-Qur'an. Menurut tinjauan matematis, Al-Qur'an yang menurut jumhur ulama hurufnya berjumlah 340.740 jika dibagi dua, maka akan ditemui bagian paling tengahnya, yaitu huruf ta' pada kata walyatalaththaf. Saya pun menggali informasi lebih dalam mengenai hal ini. Ternyata Imam Ibnu 'Asyur dalam tafsirnya juga menjelaskan fakta serupa. Jika kata-kata di dalam Al-Qur'an dihitung mulai dari alhamdu pada Surah Al-Fatihah hingga kata annas di akhir Surah An-Nas, maka huruf ta' pada walyatalaththaf tepat berada di tengah-tengah keseluruhan Al-Qur'an.

Biasanya, di Indonesia walyatalaththaf dicetak dengan warna merah atau huruf tebal, begitu pula di negeri Jiran seperti Malaysia dan Singapura serta sebagian mushaf cetakan Timur Tengah. Namun hal ini sekarang agak sukar dijumpai karena kebanyakan penerbit mencetaknya dengan warna hitam, bahkan di Indonesia sendiri, khususnya penerbit yang mencetak mushaf dengan waqaf di pojok (seperti cetakan Timur Tengah). Alhamdulillah, semasa SD saya pernah memiliki mushaf terbitan Timur Tengah yang walyatalaththaf-nya tercetak merah.

Menurut literatur-literatur yang pernah saya baca (walaupun saya sendiri tidak mengetahui keabsahan ceritanya), konon ketika Khulafaur Rasyidin ketiga Utsman bin 'Affan dibunuh, cipratan darahnya tepat mengenai kata walyatalaththaf pada mushaf yang kala itu sedang beliau baca. Oleh karena itu, kata ini dicetak dengan warna merah untuk mengenang beliau.

Di samping itu, banyak informasi yang beredar di masyarakat mengenai khasiat membaca walyatalaththaf sebagai wirid. Khususnya di kalangan pengamal ilmu Kebatinan atau Tasawuf. Misalnya, jika seseorang membaca tujuh kali sebelum menghadapi ujian, baik Ujian Nasional, CPNS atau semacamnya, dengan izin Allah akan mudah menjawab soal dan mendapat hasil yang bagus. Demikian seperti yang pernah saya dengar dari teman-teman di sekolah.

Angka sembilan belas yang menjadi nomor urutan ayat dari kata walyatalaththaf juga memiliki banyak makna dan keunikan dalam Al-Qur'an. Seperti bacaan basmalah yang keseluruhannya terdiri dari sembilan belas huruf. Selain itu, wahyu pertama Surah Al-'Alaq ayat 1-5 juga terdiri dari sembilan belas kata. Di sisi lain, untuk mengkaji walyatalaththaf secara ilmiah, kita akan menyelami unsur-unsur bahasa, makna, sejarah, tafsir dan cerita di balik ayat ini. Mari kita awali dengan pembahasan menurut sudut pandang kebahasaan.

Menurut kaidah bahasa Arab, walyatalaththaf terdiri dari tiga unsur. Pertama, huruf waw sebagai athaf atau penghubung. Kedua, huruf lam sebagai adat amar atau perintah. Ketiga, kata yatalaththaf sebagai kata kerja yang berarti bersikap sopan atau berlemah lembut. Jika kita membuka kamus-kamus bahasa Arab, yatalaththaf memiliki makna yang lebih luas, di antaranya ialah menghormati, tenang, sabar, melunak, rendah hati, berbuat baik dan segala macam yang menjurus kepada sifat baik lainnya.

Dari segi sejarah, dalam Hasyiyah Ash-Shawi 'ala Tafsir Al-Jalalain disebutkan bahwa ayat ini menceritakan perjuangan sembilan pemuda Ashabul Kahfi untuk menyelamatkan diri dari raja Dikyanus yang zalim, demi memelihara keimanan mereka kepada Allah Swt.. Mereka bersembunyi dalam sebuah gua selama 309 tahun dalam keadaan tertidur. Ungkapan walyatalaththaf ini digunakan oleh para pemuda Ashabul Kahfi ketika menyuruh teman mereka yang bernama Tamlikha untuk pergi membeli makanan ke kota Tharasus secara sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan raja yang zalim dan bersikap sopan selama perjalanan.

Kata walyatalaththaf keluar dari mulut para pemuda Ashabul Kahfi dengan ilham dari Allah. Ini adalah ungkapan yang sangat halus dan sopan (polite language). Mereka tidak menggunakan ungkapan suruhan langsung dengan fi'il amar (kata kerja perintah), tetapi dengan susunan lam adat amar dan fi'il mudhari' (kata kerja menunjukkan sesuatu yang sedang atau akan terjadi). Susunan ini dalam ilmu Balaghah disebut iltimas. Dan jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, walyatalaththaf artinya ialah "hendaklah kamu bersikap sopan".

Ungkapan ini jelas lebih santun dibanding dengan amar (perintah langsung) yang otomatis akan menambah tanda seru (exclamation point/'alamat at-ta'ajjub) di akhir kalimat. Hasilnya akan menjadi talaththaf, yang berarti "bersikap sopanlah!". Unik sekali, bahasa yang sopan digunakan untuk meminta seseorang bersikap sopan. Jelas ini memengaruhi psikis orang yang disuruh. Biasanya, seseorang akan menuruti perintah jika diperlakukan dengan baik. Inilah yang menjadi salah satu sebab selamatnya para pemuda Ashabul Kahfi. Mereka mampu menciptakan suasana yang kondusif di antara mereka ketika cobaan menimpa. Ketenangan, kesabaran dan kekompakan dalam sebuah tim akan membawa pada kesuksesan.

Tentu juga ada pesan-pesan ilahi yang tertanam di kisah ini. Allah ingin agar manusia senantiasa saling menghormati dan berbuat baik kepada sesama. Bersikap lembut, pemaaf, murah hati dan bersahaja. Saling mengingatkan dan menasehati dengan sopan. Semuanya tanpa pandang bulu. Baik kepada orang yang seagama, sesuku, dan sebangsa, ataupun dengan yang berbeda. Posisi walyatalaththaf yang berada paling tengah dalam Al-Qur'an juga menyiratkan pesan kepada kaum Muslimin agar menjadi "umat yang di tengah-tengah" atau ummatan wasathan sebagaimana yang juga disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 143, bersikap adil dan moderat dalam menghadapi persoalan-persoalan khususnya dalam beragama dan bermasyarakat.

Di lain hal, letaknya di tengah Al-Qur'an juga menyiratkan indikasi bahwa pesan paling tengah, atau pesan inti dari kitab yang agung ini ialah apa yang dikandung dalam makna kata walyatalaththaf, yaitu selalu berbuat baik. Dengan mengaplikasikan pesan ini, maka pola pikir dan sikap kita dalam menanggapi ayat-ayat Al-Qur'an yang lain -entah itu yang menunjukkan hukum syariat, cerita sejarah, dan anjuran-anjuran-, akan menghasilkan pemahaman yang menjurus pada visi agama Islam, yaitu menjadi pembawa kebaikan, rahmat bagi seluruh alam.

Setelah itu, barulah dengan izin-Nya, kita akan merasakan manfaat-manfaat mengamalkan kandungan Al-Qur'an. Kehidupan yang sulit akan menjadi mudah, yang jelek akan menjadi indah, suasana hati yang muram berubah menjadi cerah, serta diri kita akan merasa selalu diberkahi. Karena seseorang akan damai, jika berada di zona nyaman, tempat asalnya, wadah menemukan ketenangan, sesuatu yang menjadi jati diri pribadi tersebut, dalam hal ini ialah Islam itu sendiri. Seperti petuah filosofis Muhammad Al-Ghazali, "Kebahagiaan setetes air ialah jika ia mati dalam sungai." Semoga Allah selalu membimbing kita untuk meraihnya.

05 April 2020

Tentang Asbabul Kahfi (QS-18)

1) Berapakah jumlah dari Ashbabul Kahfi?
Surat 18:22




Terjemah Arti: Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: "(jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjing nya", sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: "(jumlah mereka) tujuh orang, yang ke delapan adalah anjingnya". Katakanlah: "Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit". Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka.


2)  Apa doa dari pemuda Ashbabul Kahfi: 

Surat 18:10 


Terjemah Arti: (Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: "Ya Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami".

3). Berapa lama mereka tidur di Gua?

18:25
Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).
Tahun disini adalah tahun qomariyah

4) Siapa nama anjing penjaganya?

18:9 (ar-raqim)



Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?

Ringkasan Surat Al-Kahfi


Deskripsi surat:
Surat ini adalah surah ke 18, terdiri dari 110 ayat dan termasuk surat Makiyyah

Keutamaan surat Al Kahfi:
Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang membaca sepuluh ayat pertama Surah Al-Kahf, dia akan terlindungi dari Dajjal (HR. Muslim 1/555)




Gua Ashbabul Kahfi di Yordania


KISAH ASHABUL-KAHFI KISAH PARA PEMUDA YANG MENAKJUBKAN


Sangat banyak kisah dari umat terdahulu yang difirmankan Allâh di dalam kitab-Nya yang mulia, Al-Qur`ânil-Karim. Yang secara nyata menunjukkan betapa besar faedahnya untuk menuntun umat manusia kepada hidayah. Karena paparan kisah termasuk media pembelajaran yang penting. Apalagi, biasanya seseorang mempunyai kecenderungan lebih mudah untuk meresapi pesan-pesan moral dari sebuah cerita yang shahih. 

ASHABUL-KAHFI, PARA PEMUDA YANG TEGUH MEMPERTAHANKAN KEIMANAN

[1] Dalam surat al-Kahfi, Allâh Azza wa Jalla menyampaikan salah satu kisah kehidupan masa lalu. Yakni yang dikenal dengan ashhâbul-kahfi, yaitu para pemuda penghuni goa, yang dikisahkan secara global. Dalam sebuah keterangan disebutkan, bahwa mereka memeluk agama Nabi ‘Isa bin Maryam. Akan tetapi, al-Hâfizh Ibnu Katsir rahimahullah merajihkan, bahwa pemuda-pemuda itu hidup sebelum perkembangan millah Nashraniyah. Seandainya mereka memeluk agama Nashrani, tentu para pendeta Yahudi tidak memiliki data tentang mereka. Sedangkan peristiwa ashhâbul-kahfi, merupakan  tema yang dikemukakan oleh Yahudi kepada kaum Quraisy untuk “menguji” kebenaran kenabian Rasûlullâh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam , selain pertanyaan tentang Dzul-Qarnain dan roh. Ini menunjukkan bahwa peristiwa tersebut sudah terbukukan dalam kitab-kitab ahli kitab, dan terjadi sebelum kemunculan agama Nashrani. Wallahu a’lam. 


[2] Al-Kahfi, artinya sebuah gua di gunung, dan menjadi tempat pelarian para pemuda tersebut. 

Allâh berfirman: 

إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا 

(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: “Wahai Rabb kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu, dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”. [Al-Kahfi/18:10] 

Allâh SWT mengabarkan bahwa mereka adalah para pemuda yang lari untuk menyelamatkan keimanan mereka dari kaum mereka yang sudah terjerat oleh kesyirikan dan pengingkaran terhadap hari kebangkitan, supaya fitnah itu tidak menimpa mereka. Mereka mengungsi ke sebuah goa yang  berada di gunung.

[3] Ketika memasuki gua tersebut, mereka berdoa kepada Allâh memohon rahmat dan belas-kasih-Nya. Dikatakan oleh Syaikh Asy-Syinqithi rahimahullah, bahwa permohonan mereka tersebut merupakan doa yang agung dan mencakup seluruh kebaikan. Dari doa para pemuda itu, terdapat satu sisi yang ditekankan oleh Syaikh as-Sa’di rahimahullah, yakni, mereka telah menggabungkan atau memadukan antara (usaha yaitu) lari dari fitnah dengan menuju ke suatu tempat yang bisa menjadi persembunyian, (dipadukan) dengan ketundukan dan permintaan kepada Allâh agar dimudahkan urusannya, dan tidak menyandarkan urusan-urusan kepada diri mereka sendiri dan kepada sesama makhluk lainnya.

[4] Tentang jadi diri para pemuda tersebut, Allâh Azza wa Jalla berfirman: 

إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى 

Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk. [Al-Kahfi/18:13] Allâh Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan, mereka adalah sekumpulan pemuda yang menerima kebenaran dan lebih lurus jalannya daripada generasi tua dari kalangan mereka, yang  justru menentang dan bergelimang dengan agama yang batil. Para pemuda tersebut hanya beriman kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala semata, tidak seperti kaum mereka. Maka, Allâh Subhanahu wa Ta’ala mensyukuri keimanan mereka, dan kemudian menambahkan hidayah atas diri mereka. Maksudnya, disebabkan hidayah kepada keimanan, maka Allâh Azza wa Jalla menambahkan petunjuk kepada mereka, yakni berupa ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. Sebagaimana firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala , yang artinya, “Dan Allâh akan menambahi petunjuk kepada mereka yang telah mendapatkan petunjuk.[ Maryam/19:76].

[5] Bertolak dari penegasan Allâh Azza wa Jalla di atas bahwa mereka merupakan sekumpulan pemuda yang beriman, sebuah kesimpulan menarik dikemukakan oleh al-Hâfizh Ibnu Katsir rahimahullah, beliau rahimahullah mengatakan, “Oleh karena itu, kebanyakan orang yang menyambut dakwah Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya berasal dari kalangan para pemuda. Sedangkan para orang tua dari kaum Quraisy, kebanyakan masih memegangi agama mereka, tidak memeluk Islam kecuali sedikit saja. Demikianlah Allâh Azza wa Jalla mengabarkan, bahwa mereka itu adalah para pemuda.” 

[6] Allâh Azza wa Jalla berfirman: 

وَرَبَطْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَٰهًا ۖ لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا 

Dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka berkata, “Rabb kami adalah Rabb langit dan bumi, kami sekali-kali tidak menyeru ilah selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”. [Al-Kahfi/18:14] Saat menjelaskan maksud ayat ini, al-Imam ath-Thabari rahimahullah menyatakan, “Dan Kami (Allâh) mengilhamkan kesabaran kepada mereka dan mengokohkan hati mereka dengan cahaya keimanan, hingga jiwa mereka berlepas diri dari sebelumnya, yaitu kebiasaan hidup yang menyenangkan. 

[7] Allâh Subhanahu wa Ta’ala mengkaruniakan atas mereka keteguhan dan kekuatan untuk bersabar, sehingga mereka berani menyampaikan di hadapan orang-orang kafir, ““Rabb kami adalah Rabb langit dan bumi, kami sekali-kali tidak menyeru ilah selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran “.

[8] Kemantapan dan keteguhan hati bagi mereka sangat dibutuhkan. Karena, seluruh penduduk memusuhi mereka, sedangkan usia mereka pada waktu itu masih muda, yang bisa saja dipengaruhi oleh orang tua. Akan tetapi Allâh Azza wa Jalla telah meneguhkan hati mereka. Demikian menurut tinjauan Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah .

[9] Dalam pernyataan itu, para pemuda tersebut telah memadukan antara ikrar terhadap tauhid rubûbiyyah dengan tauhîd ulûhiyyah dan konsisten dengannya, disertai dengan penjelasan bahwa Allâh-lah Dzat yang Haq, dan selain-Nya merupakan kebatilan. Ini menunjukkan, mereka benar-benar mengenal Rabb dan adanya tambahan hidayah pada mereka.

[10] هَٰؤُلَاءِ قَوْمُنَا اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً ۖ لَوْلَا يَأْتُونَ عَلَيْهِمْ بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍ ۖ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا 

Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai ilah-ilah (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka). Siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang mengada-ada kebohongan terhadap Allâh. [Al-Kahfi/18:15] Para pemuda itu ingin menunjukkan argumentasi, mengapa mereka mengasingkan diri dari kaumnya. Kata mereka: “Orang-orang menjadikan sesembahan selain Allâh, menyembah selain Allâh. (Mengapa) mereka tidak membuktikan bahwa sesembahan itu benar, dan menunjukkan faktor yang menjadi penyebab mereka menyembahnya?” Jadi, ada dua tuntutan pada kaum mereka. Yaitu: (1) meminta pembuktian bahwa sesembahan mereka adalah ilah (sesembahan yang haq), (2) meminta pembuktikan, bahwa ibadah yang mereka lakukan adalah benar. Dan dua hal ini, mustahil dapat dibuktikan oleh orang-orang tersebut. Karena mereka tidak mampu membantah argumentasi para pemuda tersebut, maka kekerasan fisik akan menjadi langkah mereka selajutnya. Dalam kondisi demikian, jika muncul fitnah yang mengancam agama seseorang, maka disyariatkan bagi seseorang untuk menyingkirkan diri dari khalayak demi keselamatan agamanya.

[11] Itulah yang dilakukan oleh para pemuda tadi, sebagaimana disebutkan pada ayat berikutnya,

 وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيُهَيِّئْ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ مِرْفَقًا 


Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allâh, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Rabbmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu. [Al-Kahfi/18:16] Sebagian pemuda berkata kepada yang lain, “Jika kalian berhasil mengasingkan diri dari kaum kalian dengan jasad-jasad dan agama, maka tidak tersisa (sikap) kecuali menyelamatkan diri dari keburukan mereka dan menempuh langkah-langkah yang dapat mewujudkannya. Lantaran para pemuda tersebut tidak memiliki kekuatan untuk memerangi kaumnya, dan tidak mungkin pula mereka tinggal bersama di tengah kaumnya dengan keyakinan yang berbeda”.

[12] Sehingga cara yang mereka tempuh ialah berlindung di dalam goa

[13] dengan harapan dapat mereguk rahmat dan kemudahan dari Allâh Azza wa Jalla . Tidaklah disangkal, bahwa Allâh Subhanahu wa Ta’ala telah mencurahkan sebagian rahmat-Nya dan memudahkan urusan mereka dengan petunjuk yang lurus dalam urusan mereka. Karenanya, Allâh Subhanahu wa Ta’ala menjaga agama dan fisik mereka, serta menjadikannya termasuk tanda-tanda kekuasaan-Nya di hadapan makhluk. Bahkan tempat untuk tidur mereka, berada dalam pemeliharaan yang tinggi

[14] Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman: 

وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَتْ تَزَاوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَتْ تَقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِنْهُ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ۗ مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ ۖ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا 


Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allâh. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allâh, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapat seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya. [Al-Al-Kahfi/18:17] Mereka berada dalam tempat yang luas dari gua itu. Keadaan demikian, supaya hawa dan arus udara mengenai mereka, dan kandungan udara yang buruk dapat keluar. 

[15] Peristiwa tersebut termasuk tanda kebesaran Allâh Azza wa Jalla . Para pemuda tersebut mendapat bimbingan Allâh Azza wa Jalla untuk menuju gua tersebut, dan Allâh menjadikan mereka tetap hidup, sinar matahari dan angin mengenai mereka, sehingga fisik mereka tetap terjaga. 

[16] Di akhir ayat ini, Allâh Subhanahu wa Ta’ala menyampaikan bahwa Dia-lah yang memberi petunjuk kepada para pemuda itu menuju hidayah di tengah kaum mereka. Siapa saja yang dianugerahi hidayah, sungguh ia telah meraih petunjuk. Dan barang siapa disesatkan, maka tidak ada seorang pun yang sanggup meluruskannya. 

[17] Dalam kisah ini tersirat sebuah peringatan, bahwa kita tidak boleh meminta hidayah kecuali hanya kepada Allâh. Begitu pula kita tidak perlu bimbang saat melihat ada orang yang tersesat. Karena kesesatan seseorang itu berada di tangan Allâh Azza wa Jalla . Kita mengimani takdir, tidak murka lantaran melihat kesesatan yang terjadi dari Allâh Azza wa Jalla . Kewajiban kita, mengarahkan mereka yang telah sesat.

[18] ALLAH AZZA WA JALLA MEMELIHARA TUBUH MEREKA

 وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ رُقُودٌ ۚ وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ ۖ وَكَلْبُهُمْ بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِالْوَصِيدِ ۚ لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَارًا وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا 

Dan kamu mengira mereka itu bangun padahal mereka tidur; dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka, tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan (diri) dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi dengan ketakutan terhadap mereka. [Al-Al-Kahfi/18:18]. Syaikh ‘Abdur-Rahman as-Sa’di rahimahullah mengutip keterangan para Ulama tafsir, beliau rahimahullah mengatakan: “Hal itu karena mata mereka tetap terbuka supaya tidak rusak, sehingga orang yang melihat, menyangka mereka terjaga padahal sedang tidur. Ini juga merupakan pemeliharaan Allâh terhadap tubuh-tubuh mereka. Karena umumnya gesekan bumi mampu menggerogoti tubuh yang bersentuhan dengannya. Di antara ketentuan Allâh Subhanahu wa Ta’ala , Dia membolak-balikkan tubuh mereka ke kanan dan ke kiri,

[19] sehingga tidak menyebabkan bumi merusak tubuh mereka, meskipun Allâh Maha Kuasa menjaga tubuh mereka tanpa perlu membolak-balikannya. Akan tetapi, Allâh Maha Bijaksana. Dia ingin memberlakukan sunnah-Nya di alam semesta dan mengaitkan faktor-faktor sebab dan akibat. Anjing yang menyertai ashhabul kahfi, pun tertidur seperti mereka pada waktu berjaga-jaga. Anjing tersebut mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Adapun penjagaan mereka dari kalangan manusia, Allâh Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa mereka dijaga dengan perasaan takut yang Allâh Subhanahu wa Ta’ala tebarkan. Seandainya ada orang melihat mereka, niscaya hatinya akan sarat dengan rasa takut dan lari tunggang langgang. Inilah faktor yang menyebabkan mereka bisa tinggal lama, dan tidak ada seorang pun yang berhasil melacak mereka, padahal keberadaannya dari kota tersebut sangat dekat sekali. Dalil yang menunjukkan dekatnya tempat mereka, yaitu tatkala mereka terbangun, dan salah seorang mengutus temannya agar membeli makanan di kota, sedangkan yang lain menunggu kedatangannya. Ini menunjukkan betapa dekat gua yang mereka tempati dari kota.[

20] BERAPA LAMA MEREKA TINGGAL DI GUA Ketika Allâh Azza wa Jalla membangunkan mereka dari tidur lelap, mereka saling bertanya dan berselisih tentang sudah berapa lamakah mereka tertidur dalam gua tersebut. Mereka mengira bahwa mereka baru menghabiskan sehari atau setengah hari saja, karena Allâh  membangunkan ash-habul kahfi dari tidur panjang mereka, dalam keadaan fisik, rambut dan kulit yang sehat seperti kondisi semula, tanpa mengalami perubahan sedikit pun. 

[21] Padahal mereka sudah melewati ratusan tahun, sebagai firman-Nya:

 وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا 


Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi). [Al-Kahfi/18:25] Imam ath-Thabari rahimahullah menyebutkan tujuan mereka dibangunkan ialah agar mereka mengetahui betapa agung kekuasaan Allâh, keajaiban perbuatan-Nya atas makhluk ciptaan-Nya, pembelaan-Nya terhadap para wali-Nya, dan supaya mereka semakin mengetahui secara jelas kondisi mereka, yakni keberdaan mereka yang benar-benar berlepas diri dari peribadahan kepada berhala, dan mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allâh semata.

[22] Setelah dibangkitkan dari tidur panjang, mereka mengutus salah seorang diantara mereka untuk membeli makanan yang mereka butuhkan dan tidak lupa mereka berpesan kepada teman yang diutusnya untuk berlaku sopan santun agar tidak memancing kecurigaan kaumnya. Allâh Azza wa Jalla berfirman. 

وَكَذَٰلِكَ أَعْثَرْنَا عَلَيْهِمْ لِيَعْلَمُوا أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَأَنَّ السَّاعَةَ لَا رَيْبَ فِيهَا إِذْ يَتَنَازَعُونَ بَيْنَهُمْ أَمْرَهُمْ ۖ فَقَالُوا ابْنُوا عَلَيْهِمْ بُنْيَانًا ۖ رَبُّهُمْ أَعْلَمُ بِهِمْ ۚ قَالَ الَّذِينَ غَلَبُوا عَلَىٰ أَمْرِهِمْ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِمْ مَسْجِدًا 


Dan demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allâh itu benar, dan bahwa kedatangan hari Kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata: “Dirikanlah sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Rabb mereka lebih mengetahui tentang mereka”. Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: “Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya“. [Al-Kahfi/18:21]. Syaikh Abdur-Rahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini, Allâh Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan kalau Dia berkehendak memperlihatkan keadaan ashhabul-kahfi kepada khalayak di masa itu. Kejadian itu –wallahu a’lam– setelah mereka terjaga, dan kemudian mengutus salah seorang di antara mereka untuk membeli makanan. Mereka memerintahkan temannya agar menyamar dan merahasiakan (perkara mereka). Allâh Subhanahu wa Ta’ala berkehendak terhadap satu kejadian yang berisi kemaslahatan bagi orang-orang dan tambahan pahala bagi para pemuda itu. Yaitu, ketika orang-orang menyaksikan salah satu tanda kebesaran- Allâh pada mereka (ash-habul-kahfi) dengan mata mereka sendiri. Sehingga mereka pun menyadari bahwasanya janji Allâh Subhanahu wa Ta’ala benar-benar ada, tidak ada keraguan padanya, juga tidak ada lagi kemustahilan setelah dahulu berselisih tentang urusan para pemuda itu. Sebagian mengakui datangnya janji Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan hari Pembalasan.  Sebagian lain meniadakannya. Kemudian Allâh Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kisah ash-habul-kahfi sebagai tambahan ilmu dan keyakinan bagi kaum Mukminin dan hujjah (penggugat) bagi orang-orang yang menentang. Jadilah pahala dalam perkara ini untuk mereka. 

[23] Selanjutnya, orang-orang yang berkuasa ingin mendirikan bangunan di atas makam mereka. Kata Abul-Faraj Ibnul-Jauzi rahimahullah , kalangan Ulama tafsir mengatakan, yang dimaksud orang-orang yang memegang kendali urusan para pemuda itu, ialah raja dan bawahan-bawahannya yang Mukmin.

[24] Mereka ini berniat untuk membangun tempat peribadahan di tempat makam para pemuda itu. Bangunan tersebut difungsikan untuk beribadah kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala di dalamnya dan mengingat-ingat para pemuda tersebut serta peristiwa yang terjadi pada mereka. Jadi, bukan dari kalangan kaum kuffar, seperti diungkapkan sebagian orang. Karena membangun masjid termasuk sifat kaum Mukminin

[25] Namun perlu diperhatikan bahwa perbuatan tersebut tidak lantas bisa dijadikan landasan untuk melegalkan pembangunan masjid di (sekitar) kuburan, seperti yang terjadi di sebagian negeri kaum Muslimin. Karena Nabi Muhammad  Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarangnya dan mencela para pelakunya. PELAJARAM DARI KISAH INI Orang yang menyelamatkan agamanya dari fitnah, niscaya Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan menyelamatkannya. Seseorang yang bersungguh-sungguh mencari keselamatan, niscaya Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan menyelamatkannya. Seseorang yang berlindung kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala , niscaya Allâh akan melindunginya dan menjadikannya sebagai sumber hidayah bagi orang lain. Barang siapa menuai  kehinaan di jalan Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan dalam mencari keridhaan-Nya, niscaya kesudahan bagi urusannya adalah kemuliaaan yang agung dari arah yang tidak dia sangka. Dan apa yang ada di sisi Allâh itu lebih baik bagi orang-orang yang patuh. 

Referensi: https://almanhaj.or.id, Syamil Qur'an