24 April 2020

Doa Nabi Ayub Ketika Sakit

SURAT AL-ANBIYA:83


Artinya:

Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: "(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang".

KISAH NABI AYUB MELAKUKAN KARANTINA DIRI AGAR PENYAKITNYA TIDAK MENULAR

Syekh Muhammad Ali Thoha Ad-Durroh dalam tafsirnya menukil pendapat Ibnu Abbas yang menjelaskan bahwa salah satu kepribadian yang menonjol dari kisah Nabi Ayyub AS, di samping kesalehan sosialnya adalah konsistensinya dalam kesabaran dan pertaubatan pada Allah dalam berbagai kondisi.
Oleh karena itu ia diberi nama Ayyub. Gambaran dari seorang spiritualis penyuka taubat. (Syekh Muhammad Ali Toha Ad Durroh, Tafsir al-Quran al-Karim wa i’robuhu wa bayanuhu, Beirut: Dar Ibn Katheer).
Ayyub adalah salah satu Nabi, selain Nabi Sulaiman, yang memiliki harta kekayaan berlimpah ruah. Hiperbolisasi diksi tafsir yang dilakukan oleh Ali Thoha Ad Durroh menggambarkan betapa Ayyub adalah salah miliarder di masanya.
Dalam riwayat yang lain Ibnu Katsir merinci betapa aset yang dimiliki Nabi Ayyub memang teramat banyak. Baik aset bergerak maupun aset tak bergerak, seperti binatang tunggangan, ternak, kebun, tanah dan rumah. Ia juga memiliki istri dan keturunan yang baik.
Ayyub juga seorang penderma. Ad Durroh menjelaskan bahwa Ayyub punya semacam panti asuhan yang menampung anak yatim, orang miskin dan dalam beberapa riwayat juga menampung para Duda. Jadi ia tak hanya kaya raya, lebih dari itu ia adalah seseorang dengan kepedulian sosial yang tinggi.
Pendek kata, Ayyub adalah gambaran life goal sebenar-benarnya. Kaya raya, berkesalehan sosial, penderma dan memiliki keluarga yang lengkap nan bahagia.
Namun hal itu tak berlangsung lama. Gelombang ujian besar datang menimpa. Harta kekayaannya sedikit demi sedikit hilang. Hewan peliharaan mati. Kediamannya terbakar. Bahkan putranya satu per satu meninggal. Dengan sekejap ia collaps. Bangkrut. Semua asetnya hilang. Tak hanya itu Ia bahkan didiagnosa menderita lepra.
Ada penggalan penjelasan menarik dari Ibnu Katsir mengenai ujian penyakit lepra yang diderita oleh Nabi Ayyub. Penggalan mengenai bagaimana Nabi Ayyub menerapkan social distancing yang sepertinya relevan kita jadikan ibrah di masa-masa pandemi global akibat covid-19 saat ini.
Ia menjelaskan bahwasannya Ibnu Hatim meriwayatkan dari Abdullah bin Ubaid bin Umair, yang berkata bahwa Ayyub mempunyai dua orang saudara. Suatu hari keduanya menengok Nabi Ayyub, namun mereka berdua tak berani mendekat. Mereka mengambil jarak dari Nabi Ayyub. Hal tersebut dikarenakan selain baunya yang tak sedap keduanya juga takut tertular penyakitnya.
Salah seorang dari saudaranya berkata; andaikan Allah mengetahui bahwa Ayyub punya kebaikan, niscaya Dia tidak akan mengujinya dengan penyakit ini. Perkataan bernada sinis dari saudaranya tersebut sontak membuatnya begitu terpukul.
Ejekan itulah yang membuat Nabi Ayyub melakukan swakarantina. Ia dengan sukarela menjauh dari lingkungan dan keluarganya. Ia menanggung lepra seorang diri, dan hanya ditemani sang Istri yang bahkan istrinya pun pernah hendak meninggalkannya.
Kehilangan harta benda adalah ujian terberat, namun bagaimanapun beratnya ujian tersebut tak ada ujian yang lebih berat dibanding terpisah dan dijauhi oleh sanak keluarga. Lepra seperti membunuhnya dua kali. Ia menggerogoti seluruh tubunya. Ia pun menjauhkannya dari keluarganya.
Hanya bersabar dan berserah diri yang dilakukan oleh Nabi Ayyub di masa masa krisisnya. Atas ejekan yang dilakukan oleh kedua saudaranya tersebut ia pun berdoa sebagaimana diabadikan dalam al-Quran: “Dan ingatlah kisah Ayyub ketika dia menyeru Tuhannya, “sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Tuhan yang Maha penyayang di antara semua penyayang.” (Al Anbiya’: 83).
Abdul Wahhab An Najjar menjelaskan ada dua pendapat mengenai kisah Nabi Ayyub di atas. Ada yang berpendapat bahwa kesabaran Nabi Ayyub atas kebangkrutan yang dideritanya itulah sebenarnya yang mengangkat derajatnya menjadi seorang Nabi. Karena menurutnya seorang Nabi adalah manusia suci yang tak mungkin diberi penyakit yang sedemikian hebat dan menghinakan.
Pendapat yang lain mengatakan bahwasannya itulah ujian bagi kenabiannya. Mengingat musibah tersebut datang kepadanya saat ia berusia 80 tahun. Sementara usia diangkatnya Nabi adalah 40 tahun.
Dari konfrontasi beberapa tafsir yang saya lakukan mengindikasikan bawa ujian tersebut adalah ujian terbesar kenabiannya. Sebagaimana Nabi-Nabi lain yang selalu lekat dengan ujian.
Nabi Ayyub diangkat menjadi Nabi setidaknya karena dua hal besar. Pertama, karena kedermawanannya atas aset yang ia miliki. Kedua, karena kesabarannya atas swakarantina yang ia lakukan secara sukarela dikarenakan ujian yang Allah -dalam beberapa riwayat, yang setan- timpakan atas semua aset yang dimilikinya tersebut.
Terlepas dari silang pendapat para mufassir mengenai kisah tersebut, Nabi Ayyub mewariskan pelajaran besar bagi kita terutama di masa ganasnya pandemi covid-19 yang mengglobal saat ini. Ia mengajarkan kebesaran hati dan kesadaran diri melakukan swakarantina.
Ibnu katsir menjelaskan dalam tafsirnya bahwa penyakit yang diderita oleh Nabi Ayyub bahkan menggerogoti seluruh tubuhnya kecuali hati dan lidahnya. Ia pun melakukan swakarantina dengan berbekal kedua organ tersebut yang ia gunakan untuk berzikir kepada Allah Ta’ala.
Sadar penyakitnya menular dan membahayakan orang lain. Ia memilih jalan sunyi. Mengisolasi diri agar tak mengganggu kenyamanan orang lain. Pilihan tersebut memang berat. Ia faham betul bahwa hidup laksana roda pedati. Kadang di atas. Sekali waktu ada di bawah. Ketika di bawah, ia tabah. Nabi Ayyub adalah simbol ketabahan anak manusia. 
KESABARAN NABI AYUB
Nabi Ayyub A.S, anak Ish bin Ishaq bin Ibrahim A.S. Beliau seorang nabi yang sangat kaya sekali, mempunyai ternak yang bermacam-macam, seperti: sapi,kambing, kuda, keledai, unta, dan lain sebagainya.
Beliau seorang yang baik hati, suka mengeluarkan harta bendanya untuk membantu fakir miskin, yatim piatu, memuliakan tamu dan sebagainya, kekayaannya itu tidak melalaikannya ibadah kepada Allah Swt. Kekayaan yang melimpah-limpah itu tidak menyebabkan ia menjadi sombong dan lupa kepada orang-orang yang miskin. Walauoun ia seorang yang kaya namunkehidupannya tidak berlebih-lebihan, bahkan semakin kaya semakin bertambah taatnya kepada Allah Swt.
Dengan kekayaan yang banyak dan keturunan yang banyak pula, dia tidak makin kendor semangatnya untuk beribadat dan bersujud kepada Allah Swt.
Setiap orang yang beriman dan taat beribadat, syaithan selalu mencoba mengodanya. Demikian pula akan halnya terhadap Nabi Ayyub A.S Dengan berbagai cara dan akal bulus, syaithan mencoba membujuknya dengan merayu-rayu dan dengan senjatanya yang ampuh, agar Ayyub dapat bergeser dari imannya dan dari ibadatnya.
Cobaan Allah kepada Nabi Ayyub A.S.
Pertama harta bendanya habis, sehingga Ayyub yang tadinya kaya raya, lama kelamaan menjadi miskin. Hal ini tidak menggoncangkan keimanannya, karena beliau senantiasa ingat bahwa semua manusia lahir ke dunia tidak membawa apa-apa, kemudian Allah memberikannya rizqi dan Allah lah yang memberikan kekayaan. Dan kepada Allah harta benda itu kembali, yakni Allah lah yang mengambil kembali harta itu.
Dari ujian cobaan ini, luluslah Ayyub. Beliau tidak bergeser sedikit pun imannya dan ibadahnya kepada Allah. Kemudian Allah mengujinya lagi, anak-anaknya yang banyak itu, sekarang banyak pula yang mati, dari saat ke saat cobaan dan ujian itu terus berjalan.
Cobaan ini tidak mempengharui diri Nabi Ayyub, beliau ingat bahwa manusia semula dari Allah, kemudian kembali kepada-Nya, termasuk dirinya akan kembali pula kepada-Nya.
Cobaan itu diterima oleh Ayyub dengan sabar, kemudian syaithan berusaha dengan sekuat-kuatnya untuk menggoncangkan keimanan Nabi Ayyub. Dan Allah mngujinya dnegan memberikan penyakit yang dahsyat, penyakit yang tidak smebuh-sembuh, sehingga rupanya Ayyub pun berubah dan kelihatannya sangat tua sekali. tetapi ia pun tetap tenang dan sabar, tidak pernah mengeluh karena sakitnya itu, dan segala ibadat yang dikerjakannya sebagaimana waktu sebelum sakit ia kerjakan dengan bertambah khusyu’.
Syaithan pun putus asa, karena dengan cara apa pun tidak berhasil menggoda Ayyub, walau bagaimanapun sakit yang dideritanya, imannya tidak bergeser sedikitpun. Maka syaithan mencari jalan laindengan memperdaya istrinya, supaya berkurang menjaga suaminya.
Pada suatu hari istri Ayyub enggan melayani suaminya. Ayyub menjadi marah kepada istrinya dengan berujar: “Jika aku sembuh pasti kupukul seratus kali”. dan Nabi Ayyub berdo’a kepaada Allah Swt sebagaimana tertera dalam kitab al-Qur’an.
“Ingatlah ketika Ayyub menyeru kepada Tuhan-nya:” Ya Tuhanku, aku dapat penyakit dan cobaan yang sebabkan oleh syaithan” (QS. Shaad ayat 41).
Do’a Nabi Ayyub dikabulkan tuhan, dan Ayyub pun sembuh dari penyakitnya, dan harta kekayaannya pun kembali seperti sedia kala, juga keluarganya sehat-sehat seperti sedia kala.
Tuhan memperlihatkan keimanan Nabi Ayyub A.S yang tidak sedikit pun bergeser walaupun musibah dan cobaan bertubi-tubi, sehingga syaithan menjadi kalah dan tidak berdaya. Sewaktu Nabi Ayyub berdo’a minta sembuh, Tuhan berfirman sebagaimana tertera dalam al-Qur’an:
“Hentakkanlah (injaklah dnegan keras) kakimu ke atas bumi, niscaya terbit di sana mata air yang sejut, maka mandi dan minumlah, lalu sembuhlah penyakitnya” (QS. Shaad ayat 42).
Setelah Nabi Ayyub sembuh dari penyakitnya, kemudian Nabi Ayyub ingin melaksanakan janjinya untuk memukul istrinya seratus kali, maka hal itu dibolehkan oleh Allah sebagaimana firman-Nya dalam al-Qur’an:
Ambillah sekerat kayu dengan tanganmu, lalu pukullah istrimu dengan itu, maka tiadalah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami mendapai Ayyub itu orang yang sabar, dia sebaik-baik hamba dan banyak bertaubat kepada Allah Swt.” (QS. Shaad ayat 44).
Demikian Nabi Ayyub tidak jadi memukul istrinya seratus kali pukul, tetapi lidi yang seratus itu dijadikan satu ikatan dan dipukulkan sekali saja, untuk melaksanakan janjinya itu sewaktu beliau masih sakit.
Istri Ayyub adalah wanita yang shalehah, ia berbuat sesuatu bukanlah karena tabi’atnya yang jelek, namun karena digoda oleh syathan, dan Allah Swt Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Tidak lama kemudian Nabi Ayyub mempunyai anak yang banyak, diantaranya anak laki-laki bernama Basyir yang digelari Dzulkifli yang pada akhirnya menjadi seorang nabi pula. Sumber: Islam.co