06 April 2020

Tentang Walyatalattaf (QS-18:19)

AL-KAHFI:19

Artinya:

Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: Sudah berapa lamakah kamu berada (disini?)". Mereka menjawab: "Kita berada (disini) sehari atau setengah hari". Berkata (yang lain lagi): "Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun

Tafsir menurut Syamil Qur'an (18:19)

Haritsah bin Wahab r.a berkata: "Aku mendengar Rasulullah saw bersabda "Maukan aku kabarkan kepada kalian tentang calon penghuni syurga? Yaitu setiap orang yang lemah lembut dan dianggap lemah oleh para manusia, tetapi jika dia bersumpah atas nama Allah, pastilah Allah mengabulkan yang disumpahkannya itu. Maukah aku kabarkan kepada kalian calon penghuni neraka? Yaitu setiap orang yang suka mengumpulkan harta tetapi ia kikir, dan bengis dan sombong (HR. Bukhori Muslim, Riyadus Shalihin 252:90)

Bahwa walyatalaththaf adalah bagian paling tengah dari Al-Qur'an. Menurut tinjauan matematis, Al-Qur'an yang menurut jumhur ulama hurufnya berjumlah 340.740 jika dibagi dua, maka akan ditemui bagian paling tengahnya, yaitu huruf ta' pada kata walyatalaththaf. Saya pun menggali informasi lebih dalam mengenai hal ini. Ternyata Imam Ibnu 'Asyur dalam tafsirnya juga menjelaskan fakta serupa. Jika kata-kata di dalam Al-Qur'an dihitung mulai dari alhamdu pada Surah Al-Fatihah hingga kata annas di akhir Surah An-Nas, maka huruf ta' pada walyatalaththaf tepat berada di tengah-tengah keseluruhan Al-Qur'an.

Biasanya, di Indonesia walyatalaththaf dicetak dengan warna merah atau huruf tebal, begitu pula di negeri Jiran seperti Malaysia dan Singapura serta sebagian mushaf cetakan Timur Tengah. Namun hal ini sekarang agak sukar dijumpai karena kebanyakan penerbit mencetaknya dengan warna hitam, bahkan di Indonesia sendiri, khususnya penerbit yang mencetak mushaf dengan waqaf di pojok (seperti cetakan Timur Tengah). Alhamdulillah, semasa SD saya pernah memiliki mushaf terbitan Timur Tengah yang walyatalaththaf-nya tercetak merah.

Menurut literatur-literatur yang pernah saya baca (walaupun saya sendiri tidak mengetahui keabsahan ceritanya), konon ketika Khulafaur Rasyidin ketiga Utsman bin 'Affan dibunuh, cipratan darahnya tepat mengenai kata walyatalaththaf pada mushaf yang kala itu sedang beliau baca. Oleh karena itu, kata ini dicetak dengan warna merah untuk mengenang beliau.

Di samping itu, banyak informasi yang beredar di masyarakat mengenai khasiat membaca walyatalaththaf sebagai wirid. Khususnya di kalangan pengamal ilmu Kebatinan atau Tasawuf. Misalnya, jika seseorang membaca tujuh kali sebelum menghadapi ujian, baik Ujian Nasional, CPNS atau semacamnya, dengan izin Allah akan mudah menjawab soal dan mendapat hasil yang bagus. Demikian seperti yang pernah saya dengar dari teman-teman di sekolah.

Angka sembilan belas yang menjadi nomor urutan ayat dari kata walyatalaththaf juga memiliki banyak makna dan keunikan dalam Al-Qur'an. Seperti bacaan basmalah yang keseluruhannya terdiri dari sembilan belas huruf. Selain itu, wahyu pertama Surah Al-'Alaq ayat 1-5 juga terdiri dari sembilan belas kata. Di sisi lain, untuk mengkaji walyatalaththaf secara ilmiah, kita akan menyelami unsur-unsur bahasa, makna, sejarah, tafsir dan cerita di balik ayat ini. Mari kita awali dengan pembahasan menurut sudut pandang kebahasaan.

Menurut kaidah bahasa Arab, walyatalaththaf terdiri dari tiga unsur. Pertama, huruf waw sebagai athaf atau penghubung. Kedua, huruf lam sebagai adat amar atau perintah. Ketiga, kata yatalaththaf sebagai kata kerja yang berarti bersikap sopan atau berlemah lembut. Jika kita membuka kamus-kamus bahasa Arab, yatalaththaf memiliki makna yang lebih luas, di antaranya ialah menghormati, tenang, sabar, melunak, rendah hati, berbuat baik dan segala macam yang menjurus kepada sifat baik lainnya.

Dari segi sejarah, dalam Hasyiyah Ash-Shawi 'ala Tafsir Al-Jalalain disebutkan bahwa ayat ini menceritakan perjuangan sembilan pemuda Ashabul Kahfi untuk menyelamatkan diri dari raja Dikyanus yang zalim, demi memelihara keimanan mereka kepada Allah Swt.. Mereka bersembunyi dalam sebuah gua selama 309 tahun dalam keadaan tertidur. Ungkapan walyatalaththaf ini digunakan oleh para pemuda Ashabul Kahfi ketika menyuruh teman mereka yang bernama Tamlikha untuk pergi membeli makanan ke kota Tharasus secara sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan raja yang zalim dan bersikap sopan selama perjalanan.

Kata walyatalaththaf keluar dari mulut para pemuda Ashabul Kahfi dengan ilham dari Allah. Ini adalah ungkapan yang sangat halus dan sopan (polite language). Mereka tidak menggunakan ungkapan suruhan langsung dengan fi'il amar (kata kerja perintah), tetapi dengan susunan lam adat amar dan fi'il mudhari' (kata kerja menunjukkan sesuatu yang sedang atau akan terjadi). Susunan ini dalam ilmu Balaghah disebut iltimas. Dan jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, walyatalaththaf artinya ialah "hendaklah kamu bersikap sopan".

Ungkapan ini jelas lebih santun dibanding dengan amar (perintah langsung) yang otomatis akan menambah tanda seru (exclamation point/'alamat at-ta'ajjub) di akhir kalimat. Hasilnya akan menjadi talaththaf, yang berarti "bersikap sopanlah!". Unik sekali, bahasa yang sopan digunakan untuk meminta seseorang bersikap sopan. Jelas ini memengaruhi psikis orang yang disuruh. Biasanya, seseorang akan menuruti perintah jika diperlakukan dengan baik. Inilah yang menjadi salah satu sebab selamatnya para pemuda Ashabul Kahfi. Mereka mampu menciptakan suasana yang kondusif di antara mereka ketika cobaan menimpa. Ketenangan, kesabaran dan kekompakan dalam sebuah tim akan membawa pada kesuksesan.

Tentu juga ada pesan-pesan ilahi yang tertanam di kisah ini. Allah ingin agar manusia senantiasa saling menghormati dan berbuat baik kepada sesama. Bersikap lembut, pemaaf, murah hati dan bersahaja. Saling mengingatkan dan menasehati dengan sopan. Semuanya tanpa pandang bulu. Baik kepada orang yang seagama, sesuku, dan sebangsa, ataupun dengan yang berbeda. Posisi walyatalaththaf yang berada paling tengah dalam Al-Qur'an juga menyiratkan pesan kepada kaum Muslimin agar menjadi "umat yang di tengah-tengah" atau ummatan wasathan sebagaimana yang juga disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 143, bersikap adil dan moderat dalam menghadapi persoalan-persoalan khususnya dalam beragama dan bermasyarakat.

Di lain hal, letaknya di tengah Al-Qur'an juga menyiratkan indikasi bahwa pesan paling tengah, atau pesan inti dari kitab yang agung ini ialah apa yang dikandung dalam makna kata walyatalaththaf, yaitu selalu berbuat baik. Dengan mengaplikasikan pesan ini, maka pola pikir dan sikap kita dalam menanggapi ayat-ayat Al-Qur'an yang lain -entah itu yang menunjukkan hukum syariat, cerita sejarah, dan anjuran-anjuran-, akan menghasilkan pemahaman yang menjurus pada visi agama Islam, yaitu menjadi pembawa kebaikan, rahmat bagi seluruh alam.

Setelah itu, barulah dengan izin-Nya, kita akan merasakan manfaat-manfaat mengamalkan kandungan Al-Qur'an. Kehidupan yang sulit akan menjadi mudah, yang jelek akan menjadi indah, suasana hati yang muram berubah menjadi cerah, serta diri kita akan merasa selalu diberkahi. Karena seseorang akan damai, jika berada di zona nyaman, tempat asalnya, wadah menemukan ketenangan, sesuatu yang menjadi jati diri pribadi tersebut, dalam hal ini ialah Islam itu sendiri. Seperti petuah filosofis Muhammad Al-Ghazali, "Kebahagiaan setetes air ialah jika ia mati dalam sungai." Semoga Allah selalu membimbing kita untuk meraihnya.