11 May 2020

Kisah Nabi Sulaiman Memindahkan Istana Ratu Balqis - QS 27:14-44

PROFILE SURAT AN-NAML





Kisah pindahnya Istana Ratu balqis termaktub dalam QS 27:15-44. Dalam ayat-ayat tersebut dijelaskan secara mendetail bagaimana istana ratu balqis yang megah bisa dipindah dalam sekejap mata. Sebelum kita membahas lebih jauh, ada satu pertanyaan yang cukup menggelitik dari kisah ini yaitu siapakah sebenarnya yang memindahkan istana tersebut?

Namun sebelum tahu siapa mahluk yang memindahkan istana tersebut, marilah kita ikuti kisah berikut ini.

Pada saat itu nabi Sulaiman AS sedang mengumpulkan pasukannya. Dilakukan pengecekan satu persatu dari bangsa, manusia, jin dan hewan. Sayangnya nabi Sulaiman tidak melihat burung Hudhud (seperti burung pelatuk). Dalam hatinya di bertanya, kemana dia perginya. Kenapa dia tidak ada. Jika tidak ada alasan yang jelas, maka nabi sulaiman akan memberikan hukuman untuknya.

Namun tidak lama kemudian, burung Hudhud datang dan memberikan kabar kepada nabi Sulaiman. Dia melaporkan bahwa ada suatu kerajaan, namanya kerajaan Saba  yang warganya menyembah kepada Matahari bukan kepada Allah. 

Mendengar berita seperti itu, maka Nabi Sulaiman selanjutnya mengutus burung Hud-hud untuk mengirimkan surat kepada pemimpin kerajaan Saba, yaitu Ratu Balqis. Ratu Balqis sebagai ratu dari kerajaan Saba mengirim utusan ke kerajaan Nabi Sulaiman. Akhirnya utusan dari negeri Saba pun pergi ke kerajaan Sulaiman, dengan membawa hadiah-hadiah yang akan diberikan ke Nabi Sulaiman.

Sampai di kerajaan Nabi Sulaiman, utusan itu pun disambut dengan ramah tamah oleh Nabi Sulaiman. Setelah mendengar uraian utusan itu, maka Raja Sulaiman pun berkata, “Kembalilah kamu dengan hadiah-hadiah ini kepada ratumu. Katakanlah kepadanya bahwa Allah telah memberiku rezeki dan kekayaan yang melimpah ruah dan mengaruniaiku nikmat yang tidak diberikan kepada makhluk-Nya yang lain. Selain itu aku telah diutus sebagai nabi dan rasul-Nya dan dianugerahi kerajaan yang luas serta kekuasaanku meliputi jin dan binatang-binatang.”

Utusan Ratu Balqis segera kembali ke negerinya dan langsung menemui ratunya. Sementara sang Ratu terperanjat mendengarkan cerita tentang kerajaan Sulaiman dan utusannya. Diam-diam Ratu Balqis sangat ingin melihat dari dekat bagaimana kerajaan Sulaiman. Dalam hatinya ingin menaklukkan dan menguasai kerajaan itu.

Pada saat yang ditentukan, Ratu Balqis membawa laskarnya yang terpilih. Mereka berangkat menuju kerajaan Sulaiman. Sementara itu mata-mata kerajaan Sulaiman yang terdiri dari para jin memberitahukan kepada sang raja bahwa tak lama lagi Ratu Balqis akan datang bersama laskar pilihannya. Maka Raja Sulaiman mengumpulkan para jin dengan maksud memberi tugas penting.

“Siapa yang bisa memindahkan singgsana Ratu Balqis?” tanya Nabi Sulaiman.

“Saya sanggup memindahkannya, sebelum Tuan berdiri dari tempat duduk,” jawab jin Ifrit.

“Kalau saya sanggup memindahkannya sebelum mata Tuan berkedip,” kata orang shaleh dari kaum Nabi Sulaiman. Pada saat itu juga singgasana Ratu Balqis sudah berada di depan Nabi Sulaiman. Melihat hal itu, Nabi Sulaiman langsung bersungkur sujud dan bersyukur kepada Allah atas kekuasaan Allah yang telah diperlihatkan kepadanya.

Siapakah orang  yang mampu memindahkan singgasana Ratu Balqis ke istana Sulaiman dalam sekejap mata? Al-Qur’an tidak menyebut namanya, yang jelas dia bukan dari bangsa jin, tapi dari dari bangsa manusia,  seorang yang mempunyai ilmu dari AI KitabMaksudnya kitab suci yang diturunkan sebelumnya yaitu Taurat dan ZaburSiapakah dia? Ibn Katsir dalam Kitab Tafsirnya (10: 408) menyebutkan beberapa nama yang bersumber dari beberapa riwayat. Menurut Ibn Abbas, Qatadah dan ad-Dhahhak,  namanya Ashif ibn Burkhiya’, sekretaris Nabi Sulaiman  AS. Menurut Mujahid namanya Asthum. Menurut Zuhair ibn Muhammad namanya Zun Nur. Menurut Abdullah ibn Luhaiah laki-laki itu adalah Khidhir, tapi yang terakhir ini dikomentari oleh Ibn Katsir sebagai pendapat yang aneh sekali.

Siapapun namanya tidak terlalu penting, yang jelas dia bukan bangsa jin tapi dari bangsa manusia. Hal ini penting kita garisbawahi bahwa bangsa manusia tetap lebih unggul dari bangsa jin. Yang perlu juga digarisbawahi adalah bahwa orang tersebut memiliki kemampuan itu karena ilmu yang dia pelajari dari al-Kitab. Artinya dia mendapatkan ilmu yang bersumber dari Allah SWT. Peristiwa ini juga mengingatkan kita akan pentingnya kecepatan dalam teknologi. Jin Ifrit punya kemampunan memindahkan singgasana Balqis dengan cepat, yaitu dari duduk menjadi berdiri. Laki-laki berilmu itu mampu memindahkannya dengan lebih cepat yaitu sekejab mata. Meminjam bahasa Ibn ‘Asyur sebagaimana dikutip oleh  Qurash Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah (10: 227), ini adalah simbol pertandingan antara cepat dan lebih cepat.
Rekor kecepatan memindahkan benda dalam sekejap mata itu belum bisa dipecahkan oleh teknologi manusia sampai abad ini. Yang sudah bisa ditransfer dalam sekejap mata dengan teknologi komunikasi sekarang ini baru suara, tulisan, photo dan video atau film. Memindahkan barang, benda apalagi singgasana masih memerlukan waktu yang relatif lama.

Beliau pun memerintahkan bangsa jin untuk membangun sebuah istana yang sangat indah. Lantainya terbuat dari kristal bening. Dindingnya dari kayu cendana yang harum. Atapnya terbuat dari kaca sehingga cahaya matahari dapat dibiaskan menjadi tujuh warna. Beliau memerintahkan agar pembangunan istana itu diselesaikan sesegera mungkin sebelum Ratu Balqis datang.
Ratu Balqis datang ke Istana Sulaiman
Sebelum Ratu Balqis sampai di istana, Nabi Sulaiman perintahkan kepada anak buahnya untuk sedikit merobah penampilan singgasana Ratu Balqis, untuk menguji kecerdasan dan ketelitian Sang Ratu. Dia yang tiap hari bertahta di atas singgasana itu apakah benar-benar mengenal singgasananya dengan detail. Kalau dia teliti tentu dia akan tetap mengenalnya walaupun pada beberapa bagian sudah dirobah.
Baru saja Ratu Balqis sampai, tanpa menunggu istirahat terlebih dahulu, Sulaiman sudah menodongnya dengan pertanyaan, apakah seperti ini singgasana Anda? Pertanyaannya bukan apakah ini singgasana Anda, karena pertanyaan seperti ini tentu agak ganjil, karena jelas singgasana Ratu Balqis ada di istananya di Saba’, di negeri Yaman. Juga pertanyaan model kedua ini akan membuat Ratu Balqis curiga. Ratu Balqis datang dengan pengetahuan dan keyakinan bahwa singgasananya tersimpan aman dalam peti yang dikunci tujuh lapis dalam istananya di Saba’. Ditodong dengan pertanyaan seperti itu,  Ratu Balqis menjawab singkat “Seakan-akan singgasana ini singgasanaku.”
Rupanya Ratu Balqis tetap mengenali singgasananya walaupun sedikit sudah dirobah penampilannya. Jawaban ini menunjukkan kecerdasan dan ketelitian Ratu Balqis. Tentu dia mulai berpikir, bagaimana singgasananya bisa sampai di istana Sulaiman, padahal berada dalam jarak yang sangat jauh. Kejadian ini tambah meyakinkan Ratu akan kehebatan Raja Sulaiman yang pernah dia dengar sebelumnya, yang menjadi sebab Ratu mau datang memenuhi kehendak Sulaiman. Ratu tambah yakin Sulaiman bukanlah hanya seorang Raja yang ingin memperluas wilayah kekuasaannya, tetapi juga seorang Nabi yang dapat mukjizat dari Allah SWT. Allah SWT berfirman:
قَالَ نَكِّرُواْ لَهَا عَرۡشَهَا نَنظُرۡ أَتَهۡتَدِيٓ أَمۡ تَكُونُ مِنَ ٱلَّذِينَ لَا يَهۡتَدُونَ ٤١ فَلَمَّا جَآءَتۡ قِيلَ أَهَٰكَذَا عَرۡشُكِۖ قَالَتۡ كَأَنَّهُۥ هُوَۚ وَأُوتِينَا ٱلۡعِلۡمَ مِن قَبۡلِهَا وَكُنَّا مُسۡلِمِينَ ٤٢
Dia berkata: “Robahlah baginya singgasananya; Maka kita akan melihat Apakah dia mengenal ataukah dia termasuk orang-orang yang tidak mengenal(nya)”. Dan ketika Balqis datang, ditanyakanlah kepadanya: “Serupa inikah singgasanamu?” Dia menjawab: “Seakan-akan singgasana ini singgasanaku, kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri”. (Q.S. An-Naml 27: 41-42)
Ia benar-benar takjub dengan kemegahan dan kemewahan kerajaan tersebut. Berkali-kali mulutnya berdecak kagum dan kepala bergeleng-geleng. Ratu Balqis dipersilahkan duduk di singgasana yang telah dipersiapkan.

“Wah, rasanya seperti singgasana di kerajaanku?” gumam Balqis terkagum-kagum.

“Benarkah?” Tanya Raja Sulaiman.

“Ya, ini benar-benar persis seperti singgasanaku.”

“Ketahuilah bahwa singgasana ini memang benar-benar milikmu. Singgasana ini kupindahkan ke sini sebelum engkau datang,” Nabi Sulaiman menjelaskan.

Selama ini Ratu Balqis meyakini alamlah yang berkuasa, alamlah yang dianggapnya tuhan yang memberikan manfaat dan mudharat dalam kehidupannya, sehinga dia dan para pengikutnya menyembah matahari. Keyakinan inilah yang menghalanginya selama ini untuk menyembah Allah SWT. Sekarang dia yakin akan kekuasaan dan keesaan Allah SWT, Tuhan semesta alam, yang  mencipta, mengatur dan menguasai alam seluruhnya. Allah SWT berfirman:
وَصَدَّهَا مَا كَانَت تَّعۡبُدُ مِن دُونِ ٱللَّهِۖ إِنَّهَا كَانَتۡ مِن قَوۡمٖ كَٰفِرِينَ ٤٣
 Dan apa yang disembahnya selama ini selain Allah, mencegahnya (untuk melahirkan keislamannya), karena sesungguhnya dia dahulunya termasuk orang-orang yang kafir.” (Q.S. An-Naml 27: 43)
Setelah diperlihatkan dan ditanya tentang singgasana itu, Ratu Balqis dipersilahkan memasuki ruang dalam dari istana Sulaiman. Ratu Balqis melihat lantai istana Sulaiman adalah kolam yang ada airnya, sehingga spontan dia mengangkat kainnya sehinga kelihatan kedua betisnya. Sebenarnya lantai istana Sulaiman terdiri dari kaca kuat yang sangat bening, di bawahnya ada kolam air dengan ikan-ikan yang berenang di dalamnya. Lantai seperti itulah yang dikira kolam oleh Sang Ratu. Allah SWT berfirman:
قِيلَ لَهَا ٱدۡخُلِي ٱلصَّرۡحَۖ فَلَمَّا رَأَتۡهُ حَسِبَتۡهُ لُجَّةٗ وَكَشَفَتۡ عَن سَاقَيۡهَاۚ قَالَ إِنَّهُۥ صَرۡحٞ مُّمَرَّدٞ مِّن قَوَارِيرَۗ قَالَتۡ رَبِّ إِنِّي ظَلَمۡتُ نَفۡسِي وَأَسۡلَمۡتُ مَعَ سُلَيۡمَٰنَ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٤٤
“Dikatakan kepadanya: “Masuklah ke dalam istana”. Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya. berkatalah Sulaiman: “Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca”. berkatalah Balqis: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam”. (Q.S. An-Naml 27: 44)
Ratu Balqis sangat malu dengan apa yang telah dilakukannya mengangkat kain sehingga terlihat kedua betisnya, tadinya dia benar-benar yakin itu adalah kolam yang penuh berisi air walaupun tidak dalam. Ratu menyadari betapa kecilnya dia di hadapan Sulaiman, apalagi dihadapan Allah SWT Tuhan semesta alam. Ratu dengan penuh kerendahan hati menyatakan“Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam”. (bersambung)

Ratu Balqis semakin heran dengan kemukjizatan Sulaiman. Akhirnya di saat itulah dia menyatakan beriman kepada Allah dan meninggalkan cara lama, yakni kebiasaan menyembah matahari.

Mendengar pernyataan ini, Raja Sulaiman senang hatinya. Ia lalu mengajak Ratu Balqis berkeliling-keliling istana. Lagi-lagi ratu Balqis dibuat takjub ketika memasuki lantai kaca yang dikiranya air, sehingga ia buru-buru mengangkat baju panjangnya.

“Tak usah mengangkat gamismu, ini bukan air, tetapi hanya lantai kaca” kata Sulaiman sambil tersenyum.

Semenjak itulah antara kerajaan Saba dan kerajaan Sulaiman bekerja sama dengan baik, karena seiman/seagama. Ratu Balqis mengharuskan rakyatnya memeluk agama Nabi Sulaiman. Akhirnya Ratu Balqis yang cantik itu pun diperistri oleh Nabi Sulaiman, dan kerajaannya dijadikan satu.(Dari berbagai sumber)